Datanglah Sebagai Mahmud Efendi
Datanglah Sebagai Mahmud Efendi
Pada suatu hari, Sultan Mahmud II (1808-1839), yang sedang
mengunjungi salah satu rumah Mawlawiyah, mendapat sambutan istimewa dari
para darwis. Rumah Mawlawiyah sendiri adalah rumah atau pondok berkumpulnya
para sufi yang beraliran thariqah Mawlawiyah, thariqah yang didirikan oleh tokoh
sufi terkenal, Maulana Jalaluddin Rumi. Syekh Abdul Baqi Dede, pimpinan dari
rumah mawlawiyah tersebut sudah bosan dengan perilaku kurang pantas yang
dilakukan oleh para darwis. Ia mencari kesempatan untuk menyampaikan hal ini
kepada sultan.
Sultan Mahmud II mendatangi Syekh untuk menyatakan kepuasannya atas
kunjungan tersebut. Sang Sultan berterima kasih kepada Syekh atas kenikmatan
spiritual yang telah dialaminya. Syekh tidak melewatkan kesempatan ini. Ia berkata
dengan sikap malu, “Sultanku, saya mohon anda jangan datang ke rumah kami seperti
ini lagi.”
Sultan sangat terkejut mendengar perkataan syekh, dan berkata
“Syekh, apakah anda mengusir saya dari tempat ini?”. Syekh Abdul Baqi Dede pun
menjawab “Bukan begitu sultanku, saya tidak bermaksud mengusir anda. Akan tetapi,
saya tidak ingin anda membagikan uang dan memberikan hadiah kepada para darwis.
Saya memohon anda datang ke tempat ini bukan sebagai sultan mahmud, melainkan
hanya sebagai mahmud efendi (Tuan/Bapak Mahmud). Anda boleh datang kapanpun.”
...
Sultan Mahmud II adalah sultan Turki Utsmani yang ke-30. Ia adalah
sosok sultan reformis yang melakukan pembaharuan di berbagai bidang, termasuk pemerintahan,
militer dan pendidikan. Namun, konflik internal, pemberontakan, dan perang, membawa
kesultanan ke dalam ambang kehancuran. Sultan Mahmud II merupakan kakek dari
Sultan Abdul Hamid II, penyeru Pan-Islamisme di abad 20.
Referensi : Buku
Kayı-IX Osmanlı Tarihi Sonun Başlangıcı, Prof. Dr. Ahmet Şimşirgil, Timaş
Yayınları, İstanbul, 2017

Komentar
Posting Komentar